MATA KULIAH JURNALISTIK: SARANA MEMBANGUN
IKLIM “MELEK MEDIA” DI
KALANGAN MAHASISWA
Oleh: Lili Suherma Yati, S.S.M.A
Pernah di awal
perkuliahan saya bertanya kepada mahasiswa, “ apakah semua mahasiswa di kelas
ini punya email?” sebagian mahasiswa menjawab “punya” dan sebagian menjawab
“belum punya bu.” Saya bertanya untuk kali kedua, “tapi apakah Saudara punya
Face Book?” ternyata hampir keseluruhan menjawab “punya.” Lalu saya bertanya
lagi,”lalu apakah membuat Face Book tanpa memiliki email, bisa?”. Mereka
menjawab, “saya kurang tahu Bu, karena Face book saya dibuatkan teman.”
Sepenggal kisah di atas adalah bagian dari fenomena
yang menggejala di kalangan mahasiswa. Tentu pula hal seperti ini hendaknya
menjadi evaluasi bersama bahwa masih banyak mahasiswa yang memanfaatkan media
hanya sebagai sarana hiburan (senang-senang) semata. Hal ini juga tampak dengan
banyaknya warnet-warnet di sekitar kampus yang ketika saya observasi, aktivitas
mahasiswa di warnet kebanyakan untuk update status, chatting, download film dan
lagu, bahkan main game. Lalu kapan musimnya mereka mencari berita dan ilmu
pengetahuan? Yaitu saat ujian semester menjelang.
Kehidupan seperti di
atas tentunya akan mengakibatkan kondisi akademik yang tidak sehat. Sebab
mahasiswa banyak yang terganggu pola hidupnya dengan kurang pedulinya terhadap
informasi yang akan mendukung kualitas diri dan pendidikannya. Sudah sering
kita dengar tentang kampanye yang membahas tentang melek media oleh KPI atau pun masyarakat yang sadar tentang
pentingnya literasi media. Selain
itu, dan cukup banyak pula perguruan
tinggi berperan dalam mengembangkan isu-isu seperti ini. Hal ini akan sangat
disayangkan ketika hanya sekadar wacana yang belum ada realisasinya. Sebab
mahasiswa adalah bagian dari masyarakat intelektual yang harus memiliki
kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan
isi pesan media, sebagaimana definisi literasi media.
Berangkat dari
fenomena itu pula, dengan adanya mata kuliah Keterampilan Pers dan Jurnalistik di
Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas
Baturaja, mahasiswa diharapkan memiliki konsep pemikiran baru terhadap media,
mampu membaca, memahami,
dan memanfaatkan pesan di media dengan sebaik-baiknya. Langkah selanjutnya
adalah dengan mengupayakan munculnya dialektika pemahaman antara kita dengan
pesan media. Hal seperti itulah yang menjadi latar belakang mengapa penting mendorong
atau meningkatkan kesadaran bermedia (baca: melek media) di kalangan
mahasiswa. Sehingga produksi kebahasaan sebagai petanda suprastruktur peradaban
dapat terwujud. Dengan adanya ”media literacy” inilah mahasiwa diharapkan mampu
bersikap kritis, berwawasan luas, merdeka, dan berpengetahuan. Selamat
berkarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar